Selasa, 25 Juni 2013

Mas Skripsi yang Super Hits

Kemarin saya terlalu sibuk dengan dunia lain. Hingga lupa kalau saya tengah membuat sebuah rumah yang hampir 80% selesai. Tinggal atap koo, yah tenang sajalah, oiyaa? Dan akhirnya baru sadar kalau hal yang disepelekan terlalu lama justru akan berdampak krusial, alaahhh~ kemana ajj buuu..

*masih pengibaratan*
Terbuktii, bila misal musim hujan tiba, saya harus menerima kenyataan kalau rumah yang hampir rampung tersebut pada akhirnya terkena banjir yang semakin tinggi, tinggi, dan meninggi.
Yaiyalaahh kan tak beratap ceritanyaa. Mending kalau rumah tersebut pada akhirnya kering kembali dann oke sip semua selesai. 

Tapi bagaimana coba, bila kenyataannya genangan banjir itu membuat si rumah semakin berantakan tak karuan, bahkan membuatnya menjadi rapuh begitu.. (cape lagi kan beresinnyaa) pasti jadi berkali-kali lipat dong pekerjaan yang harus saya selesaikan untuk si-rumah ini. efeknya ohhh, sudah dipastikan sulit!

Padahal Ia sudah menjelaskan dalam kalamNYa

“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain” (QS. Al Insyirah: 7)

Hemm, bisa jadi maknanya adalah kerjakan dulu satu pekerjaan sampe tuntass, nah baru deh berpindah ke lain tugas yang mau diselesaikan juga. Gapake selingkuh apalagi berkhianat gitu kali yaa, hoho frontal :p 

Seperti cerita saya dengan mas skripsi yang satu ini.
Sudah berapa lama yahh, mas skripsi ini hilang tak tertambat di hati dan pikiran saya, lebih asik dengan mas mas yang lainnya sih, hehe #eh

hingga beruntung kemarin Allah yang Maha Oke ini kembali mempertemukan saya dengan teman-teman sejawat yang sudah lama banget gitu kan g ketemu. Lama nian gcerita-ceritaan lagi, hingga mereka kembali mengingatkan saya akan skripsi :|


Selasa, 09 April 2013

MBAH UJU

jadii, singkat cerita waktu itu saya sempet nongol gitu deh di sebuah mesjid antik diseputaran kota bandung, sebut saja Ia Masjid Cipaganti. konon katanya mesjid ini adalah salah satu tempat yang penuh dengan balutan sejarah didalamnya, secara masuk kedalam salah satu situs cagar budaya gitukan.

nah, nah.. ditengah keasikan saya menikmati suasana menggoda mesjid ini. akhirnya saya memutuskan untuk mengobrol ria dengan salah seorang anggaplah ia sesepuh di masjid tersebut. Nyatanya kesendirian itu menjemukkan ~ #eh

baiklah, lanjut yaa.. sesepuh itu adalahh.. sebut saja ia Mbah Uju, kurang lebih namanya seperti itu. dimata saya beliau lebih keren loh dari Mbah Surip dan lebih Fenomenal dari Eyang Subur :p

Minggu, 07 April 2013

LENI UNTUNG

Sekusut apapun hidup yang saat ini saya jalani. Nyatanya saya harus mengakui pada si diri, bahwa sayalah salah satu makhluk paling beruntung yang Sang-Dia hadirkan ke muka bumi ini.
Narsis, biarin..
Nyatanya setiap manusia adalah beruntung, tinggal bagaimana si kita-kita ini peka dan mau untuk mengakui.

mungkin, saya bukanlah orang yang terlahir dari keluarga yang teramat paham akan hukum dan ketentuanMu, 
mungkin saya bukanlah anak jebolan pesantren yang paham akan ilmuMu, 
mungkin saya bukanlah anak rohis yang paham akan arti perjuangan Dakwah, 
dan mungkin saya bukanlah orang super sholeh yang tak pernah mengecewakanMu. 

tapii sungguh saya bersyukur Kau memberikan rasa ketertarikan-ketertarikan ini, Kau pernah memberikan jalan-jalan ini pada saya.. benar-benar sketsa kehidupan yang takkan saya lupakan. Thanks to Allah :*

Sekolah Dasar
Saya ingat, Waktu SD cita-cita yang namanya leni ini Cuma satu “Saya Ingin Menjadi Guru Agama” itu saja.
Wahh, betapa mulianya gitukan yang namanya leni ini :p

Sekolah Menengah Pertama
Ternyata saat SMP, si Leni yang polos ini tampak masih setia dengan jalannya.
“Saya Ingin mesantren mah~ yah, minimal sekolah di tsanawiyah aja deh, yah, yahh…” rayu si leni ini pada mamahnya.
Namun, tampaknya takdir berkehendak lain. Singkat cerita si leni ini akhirnya masuk ke salah satu SMP negeri di dekat kampungnya. Kata mamah sih biar irit biaya begitu..
Iri pun sempet-sempetnya gitu deh mampir ke hati si leni, saat itu. Kala dirinya harus menerima kenyataan kalau ada salah satu teman SD nya yang memutuskan untuk Nyantren gitu di “GONTOR” dimata saya saat itu Gontor adalah Keren :)
“mauuuuuu….” Nyatanya belum rejeki len.
Lanjut, Waktu SMP itu demen bener deh ah, kalau bepergian bergaya macam akhwat, kemana-mana pakai rok sama kaos kaki, bukan karena sudah kenal dekat sama yang namanya kewajiban untuk tak menampakkan aurat. Karena bagi leni, penampilan leni yang seperti itu memancarkan aura ke-kecean :)
Efek imitasii sih lebih tepatnya, karena waktu smp ada teman sekelas yang wuiih katakanlah berwajah “subhanallah” kebenaran menyatakan penampilannya yang super akhwat dengan kerudung menutup dada lengkap bersama mansetnya itu berhasil menginspirasi leni untuk berubah semakin anggun.
Saat teman-teman SMP leni perlahan mulai mengenal istilah, keceng- mengeceng alias pacaran. Nyatanya Allah lebih memilih untuk memberikan si leni kesibukan bermain ucing-ucingan dengan teman adik-adiknya. Dengan bangganya si leni ini mengakui kalau dialah anak paling tua yang bermain saat itu.
“saya tampak keren saat bermain dengan teman adik-adik saya, karena saya berasa jadi orang yang paling dihormati, sehingga mereka pada mau tunduk begitu sama saya” berasaa ratu elizabethlah~

Sekolah Menengah Atas
Berlanjut ke SMA, wah, wahh.. pemikiran si leni saat itu sudah mulai alay ternyata.
Disini, si leni sudah mulai berbelok arah. Perubahan itu mulai terlihat jelas dari penampilan nya yang mulai Nampak lebih senang be-Gaya macam anak muda di masanya.
“Mah, lebaran nanti leni pengen beli Celana Pensil yahh” wahh.. ceritanya celana pensil itu adalahmode hits dimasanya.
Tapii.. jalan lurusNya tampak teramat betah bergelayut di kehidupan leni. Nyatanya Allah terlampau sayang pada makhluk ciptaanNya.
Terbukti, walau si leni sudah mulai alay karena terbawa per-gahoelan, tapii tetep saat itu dirinya masih eksis untuk ber-Ngaji ria dikampung bersama teman-teman bocah lainnya. kenyataan harus membuktikan kembali bahwa leni lah orang yang lagi-lagi paling tua yang masih ngaji saat itu, Sang-Dia seolah memberikan anugerah untuknya lebih betah bila bergaul sama bocah-bocah teman adiknya itu. #Masih..
Masa SMA memang masa nya cinta cintaan. Bohong deh yaa kalau selama remaja belum pernah merasakan yang namanya ketinggang lope, patut dipertanyakan tuh keremajaannya, gkgk..
Begitupun dengan leni, tapii.. sungguh, kembali Allah terlampau sayang sama si leni ini. sekalipun teman-temannya saat itu memilih untuk berpacaran, Allah menakdirkannya untuk lebih fokus dalam menimba ilmu. Bukan tidak laku. Saya yakin setiap wanita adalah indah dimata para lelaki :) hehe.. se ‘Pas’ apapun penampilan wanita itu, kalau si wanitanya minta diperhatikan, ada ajalah pasti akhirnya laki-laki yang memerhatikan :p *PD
Lagi pula, kala itu orang tua tak setuju jika si leni berpacaran. “Awass kalau pacaran! Ga usah dilanjutin sekolahnya, udahh kawin aja!!” ancaman memang,, namun Alhamdulillah cara ini nyatanya manjur bagi leni.

Kuliah
masa perkuliahan mulai saii haii nih.. sama leni :)
Dulu leni pengen bener deh kuliah yang letaknya berdekatan dengan Mesjid Daruut Tauhid. "Pokoknya nanti kalo udah kuliah, aku ngga mau lagi ah ngaji di kampung bareng anak-anak. pengen di DT aj, bareng anak gede" #haha mulai sadar :p

Waktu itu, leni sempet merasa khawatir juga, kalau-kalau setelah kuliah leni tak dapat mengaji lagi. karena pilihan-pilihan kampus yang jaraknya jauh-jauh. makanya harus deket DT!
leni sempat berfikir bahwa Polban lah kampus yang bertetangga gitu sama DT. ternyata Allah memberikan UPI untuk leni bisa mengenyam pendidikan, kecewa tak diterima di polban. owhh. jelas lah manusia normal pasti sempat merasa kecewa. namun, perlahan leni menggantinya dengan rasa syukur. dikala permintaannya tersebut nyatanya Allah berikan. bahwa UPIlah kampus yang Allah persembahkan. nyatanya memang UPI lebih deket kan ama DT, ckck..

ganti topik. kali ini, orang tua ceritanya udah ngasih kebebasan gitu deh sama yang namanya leni, kalau mau pacaran. owwhh.. silahkan, singkatnya seperti itu.

Tapii, lagi-lagii.. sang-Dia nyatanya lebih memilih memberi jalan pada si leni ini, untuk lebih menggali agamaNya saat itu. Lewat jalan teman-teman leni yang super solehah dimatanya, perlahan berhasil mengubah mindset Leni akan kehidupannya. Nyatanya dari kecil hingga saat ini sang-Dia seolah selalu memberikan teman-teman yang super kece pada leni :) #bersyukur
Ceritanya, Kalau dulu saat masuk kuliah leni Cuma pengen jadi guru doang, (sederhana)
perlahan leni mulai paham, bahwa guru itu bukanlah sebuah cita-cita, nyatanya profesi itu hanyalah onggokan alat menuju cita-cita leni sesungguhnyaa. Yaitu beribadah dan menjadi khalifah. Aamiinn..
Wuihh, bijak nian, ibu leni ini yah..
Perkuliahan kala itu lebih leni sibukkan dengan yang namanya masa pencarian.. bukan jodoh loh, lebih kepada jati diri, hehe..
Kala itu, Allah menganugrahkan leni untuk menjatuhkan ketertarikanya pada dunia islam. Efek ketertarikannya, berbagai jenis pengajian satu demi satu leni singgahi, “beda jenis beda perlakuan” itulah kesimpulan ababil leni saat itu.
hingga pusing dan prustasi ini berhasil mengeroyoki dan menggolak-golakkan pikirannya. pertanyaan demi pertanyaan terlontar di benakknya, yang manakah sebenarnya jalanMu yang benar.
perlahan leni mulai sadar betapa beruntungnya langkah hidup yang Ia persembahkan lewat jalan-jalan ini. sungguh akhirya leni benar benar bersyukur dengan sketsa yang telah Ia berikan, nyatanya jalan-jalan itulah yang semakin menguatkan tauhidnya.

Bekerja
saat masih aktif kuliah, sekarang juga masih sih sebenernya, leni pernah merasakan satu ketakutan, takut jikalau kelak si leni tak menemukan lingkungan kondusif seperti saat kuliah. lingkungan yang saling mengingatkan pada kebaikan, lingkungan yang selalu mengingatkan leni pada indahnya islam, dan utamanya adalah lingkungan yang senantiasa mengantarkan leni untuk semakin dekat denganMu. 
Yah "Salman!" leni begitu ingin bekerja di Mesjid salman ITB. karena saat itu, bagi leni salman adalah lingkungan yang super kece ;) namun nyatanya, Dia lebih memilih untuk menganugrahkan MQFM agar saya dapat terus mengepakkan sayap padaMu. lantunan asmaul husna yang setiap pagi berkumandang, tilawah Quran yang setiap hari melantun bergantian, percikan pelajaran-pelajaran hidup dari setiap crew yang saling terucap, Shalat Berjamaah yang hadir setiap waktunya. subhanallah, walhamdulillah, walhamdulillah..
Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? (Ar-rahman:13)

Pekalah lah dalam setiap langkah yang terjejaki, pekalah dalam setiap keadaan yang terlewati..

***
Sebenarnya, masih banyak lohh, keberuntungan-keberuntungan yang Allah persembahkan pada hamba-hambaNya. Salah satunya pada si leni ini. namun tampaknya terlampau panjang jika saya harus menuliskannya, hehe..

Maka saya akan tau, betapa beruntungnya diri ini, betapa beruntungnya jalan hidup yang Ia hadiahi, betapa istimewanya anugerah kasih sayangMu yang senantiasa Kau beri :)
Nyatanya kita tak akan pernah dapat menghitung nikmatNyaa..
*Edisi Syukur*

Selasa, 12 Februari 2013

Mulai dari yang Terkecil

Suasana PPL masih menyelimuti, setiap persendian sayaa.. lekukan tubuh, langkah hingga aktivitass, kalo bahasa lebay nyaa sih “all about PPL” itu belum termasuk aktivitas makan, tidur, melamun dan ke-gj-an lainnya yang tak bersinggungan dengan ppl loh yaa. Ceritanya di tipe x.
pagii ini saya memulai aktivitas baru menjadi kuncen perpus, siang pun berlanjut hingga si sore memberanikan buat say haii sama sayaa, *istiqamah* perpus.

Sudah terbaca memang akan seperti apa saya bergulat dengan sang waktu. Mengunting label, menomori, mengelem, hingga mengangkut2 bukupun saya lakoni selama seharian. 
tepat sekali dinas provinsi Jabar mengibahkan buku ke sma tempat saya ber-ppl,jadi tak usah repot-repot untuk bertanya "dirimu akan mengerjakan apa saja saat bertugas piket perpus?" cukup jelas, oke sip.