Sekusut apapun hidup yang
saat ini saya jalani. Nyatanya saya harus mengakui pada si diri, bahwa sayalah
salah satu makhluk paling beruntung yang Sang-Dia hadirkan ke muka bumi ini.
Narsis, biarin..
Nyatanya setiap manusia
adalah beruntung, tinggal bagaimana si kita-kita ini peka dan mau untuk
mengakui.
mungkin, saya bukanlah
orang yang terlahir dari keluarga yang teramat paham akan hukum dan
ketentuanMu,
mungkin saya bukanlah anak
jebolan pesantren yang paham akan ilmuMu,
mungkin saya bukanlah anak
rohis yang paham akan arti perjuangan Dakwah,
dan mungkin saya bukanlah
orang super sholeh yang tak pernah mengecewakanMu.
tapii sungguh saya
bersyukur Kau memberikan rasa ketertarikan-ketertarikan ini, Kau pernah
memberikan jalan-jalan ini pada saya.. benar-benar sketsa kehidupan yang takkan
saya lupakan. Thanks to Allah :*
Sekolah Dasar
Saya ingat,
Waktu SD cita-cita yang namanya leni ini Cuma satu “Saya Ingin Menjadi Guru Agama”
itu saja.
Wahh, betapa
mulianya gitukan yang namanya leni ini :p
Sekolah Menengah Pertama
Ternyata saat
SMP, si Leni yang polos ini tampak masih setia dengan jalannya.
“Saya Ingin
mesantren mah~ yah, minimal sekolah di tsanawiyah aja deh, yah, yahh…” rayu si
leni ini pada mamahnya.
Namun, tampaknya
takdir berkehendak lain. Singkat cerita si leni ini akhirnya masuk ke salah
satu SMP negeri di dekat kampungnya. Kata mamah sih biar irit biaya begitu..
Iri pun
sempet-sempetnya gitu deh mampir ke hati si leni, saat itu. Kala dirinya harus
menerima kenyataan kalau ada salah satu teman SD nya yang memutuskan untuk
Nyantren gitu di “GONTOR” dimata saya saat itu Gontor adalah Keren :)
“mauuuuuu….”
Nyatanya belum rejeki len.
Lanjut, Waktu
SMP itu demen bener deh ah, kalau bepergian bergaya macam akhwat, kemana-mana
pakai rok sama kaos kaki, bukan karena sudah kenal dekat sama yang namanya
kewajiban untuk tak menampakkan aurat. Karena bagi leni, penampilan leni yang
seperti itu memancarkan aura ke-kecean :)
Efek imitasii
sih lebih tepatnya, karena waktu smp ada teman sekelas yang wuiih katakanlah
berwajah “subhanallah” kebenaran menyatakan penampilannya yang super akhwat
dengan kerudung menutup dada lengkap bersama mansetnya itu berhasil
menginspirasi leni untuk berubah semakin anggun.
Saat teman-teman
SMP leni perlahan mulai mengenal istilah, keceng- mengeceng alias pacaran.
Nyatanya Allah lebih memilih untuk memberikan si leni kesibukan bermain
ucing-ucingan dengan teman adik-adiknya. Dengan bangganya si leni ini mengakui
kalau dialah anak paling tua yang bermain saat itu.
“saya tampak
keren saat bermain dengan teman adik-adik saya, karena saya berasa jadi orang
yang paling dihormati, sehingga mereka pada mau tunduk begitu sama saya”
berasaa ratu elizabethlah~
Sekolah Menengah Atas
Berlanjut ke
SMA, wah, wahh.. pemikiran si leni saat itu sudah mulai alay ternyata.
Disini, si leni
sudah mulai berbelok arah. Perubahan itu mulai terlihat jelas dari penampilan
nya yang mulai Nampak lebih senang be-Gaya macam anak muda di masanya.
“Mah, lebaran
nanti leni pengen beli Celana Pensil yahh” wahh.. ceritanya celana pensil itu
adalahmode hits dimasanya.
Tapii.. jalan
lurusNya tampak teramat betah bergelayut di kehidupan leni. Nyatanya Allah
terlampau sayang pada makhluk ciptaanNya.
Terbukti, walau
si leni sudah mulai alay karena terbawa per-gahoelan, tapii tetep saat itu
dirinya masih eksis untuk ber-Ngaji ria dikampung bersama teman-teman bocah
lainnya. kenyataan harus membuktikan kembali bahwa leni lah orang yang
lagi-lagi paling tua yang masih ngaji saat itu, Sang-Dia seolah memberikan anugerah
untuknya lebih betah bila bergaul sama bocah-bocah teman adiknya itu. #Masih..
Masa SMA memang
masa nya cinta cintaan. Bohong deh yaa kalau selama remaja belum pernah
merasakan yang namanya ketinggang lope, patut dipertanyakan tuh keremajaannya,
gkgk..
Begitupun dengan
leni, tapii.. sungguh, kembali Allah terlampau sayang sama si leni ini. sekalipun
teman-temannya saat itu memilih untuk berpacaran, Allah menakdirkannya untuk lebih
fokus dalam menimba ilmu. Bukan tidak laku. Saya yakin setiap wanita adalah
indah dimata para lelaki :) hehe.. se ‘Pas’ apapun penampilan wanita itu, kalau
si wanitanya minta diperhatikan, ada ajalah pasti akhirnya laki-laki yang
memerhatikan :p *PD
Lagi pula, kala
itu orang tua tak setuju jika si leni berpacaran. “Awass kalau pacaran! Ga usah
dilanjutin sekolahnya, udahh kawin aja!!” ancaman memang,, namun Alhamdulillah
cara ini nyatanya manjur bagi leni.
Kuliah
masa perkuliahan
mulai saii haii nih.. sama leni :)
Dulu leni pengen bener deh kuliah yang letaknya berdekatan dengan Mesjid Daruut Tauhid. "Pokoknya nanti kalo udah kuliah, aku ngga mau lagi ah ngaji di kampung bareng anak-anak. pengen di DT aj, bareng anak gede" #haha mulai sadar :p
Waktu itu, leni sempet merasa khawatir juga, kalau-kalau setelah kuliah leni tak dapat mengaji lagi. karena pilihan-pilihan kampus yang jaraknya jauh-jauh. makanya harus deket DT!
leni sempat berfikir bahwa Polban lah kampus yang bertetangga gitu sama DT. ternyata Allah memberikan UPI untuk leni bisa mengenyam pendidikan, kecewa tak diterima di polban. owhh. jelas lah manusia normal pasti sempat merasa kecewa. namun, perlahan leni menggantinya dengan rasa syukur. dikala permintaannya tersebut nyatanya Allah berikan. bahwa UPIlah kampus yang Allah persembahkan. nyatanya memang UPI lebih deket kan ama DT, ckck..
ganti topik. kali ini, orang tua ceritanya udah ngasih kebebasan gitu deh sama yang namanya leni, kalau mau pacaran. owwhh.. silahkan, singkatnya seperti itu.
Dulu leni pengen bener deh kuliah yang letaknya berdekatan dengan Mesjid Daruut Tauhid. "Pokoknya nanti kalo udah kuliah, aku ngga mau lagi ah ngaji di kampung bareng anak-anak. pengen di DT aj, bareng anak gede" #haha mulai sadar :p
Waktu itu, leni sempet merasa khawatir juga, kalau-kalau setelah kuliah leni tak dapat mengaji lagi. karena pilihan-pilihan kampus yang jaraknya jauh-jauh. makanya harus deket DT!
leni sempat berfikir bahwa Polban lah kampus yang bertetangga gitu sama DT. ternyata Allah memberikan UPI untuk leni bisa mengenyam pendidikan, kecewa tak diterima di polban. owhh. jelas lah manusia normal pasti sempat merasa kecewa. namun, perlahan leni menggantinya dengan rasa syukur. dikala permintaannya tersebut nyatanya Allah berikan. bahwa UPIlah kampus yang Allah persembahkan. nyatanya memang UPI lebih deket kan ama DT, ckck..
ganti topik. kali ini, orang tua ceritanya udah ngasih kebebasan gitu deh sama yang namanya leni, kalau mau pacaran. owwhh.. silahkan, singkatnya seperti itu.
Tapii,
lagi-lagii.. sang-Dia nyatanya lebih memilih memberi jalan pada si leni ini,
untuk lebih menggali agamaNya saat itu. Lewat jalan teman-teman leni yang super
solehah dimatanya, perlahan berhasil mengubah mindset Leni akan kehidupannya. Nyatanya
dari kecil hingga saat ini sang-Dia seolah selalu memberikan teman-teman yang
super kece pada leni :) #bersyukur
Ceritanya, Kalau
dulu saat masuk kuliah leni Cuma pengen jadi guru doang, (sederhana)
perlahan leni
mulai paham, bahwa guru itu bukanlah sebuah cita-cita, nyatanya profesi itu
hanyalah onggokan alat menuju cita-cita leni sesungguhnyaa. Yaitu beribadah dan
menjadi khalifah. Aamiinn..
Wuihh, bijak
nian, ibu leni ini yah..
Perkuliahan kala
itu lebih leni sibukkan dengan yang namanya masa pencarian.. bukan jodoh loh,
lebih kepada jati diri, hehe..
Kala itu, Allah
menganugrahkan leni untuk menjatuhkan ketertarikanya pada dunia islam. Efek ketertarikannya,
berbagai jenis pengajian satu demi satu leni singgahi, “beda jenis beda
perlakuan” itulah kesimpulan ababil leni saat itu.
hingga pusing
dan prustasi ini berhasil mengeroyoki dan menggolak-golakkan pikirannya.
pertanyaan demi pertanyaan terlontar di benakknya, yang manakah sebenarnya
jalanMu yang benar.
perlahan leni
mulai sadar betapa beruntungnya langkah hidup yang Ia persembahkan lewat
jalan-jalan ini. sungguh akhirya leni benar benar bersyukur dengan sketsa yang
telah Ia berikan, nyatanya jalan-jalan itulah yang semakin menguatkan tauhidnya.
Bekerja
saat masih aktif kuliah, sekarang juga masih sih sebenernya, leni pernah merasakan satu ketakutan, takut jikalau kelak si leni tak menemukan lingkungan kondusif seperti saat kuliah. lingkungan yang saling mengingatkan pada kebaikan, lingkungan yang selalu mengingatkan leni pada indahnya islam, dan utamanya adalah lingkungan yang senantiasa mengantarkan leni untuk semakin dekat denganMu.
Yah "Salman!" leni begitu ingin bekerja di Mesjid salman ITB. karena saat itu, bagi leni salman adalah lingkungan yang super kece ;) namun nyatanya, Dia lebih memilih untuk menganugrahkan MQFM agar saya dapat terus mengepakkan sayap padaMu. lantunan asmaul husna yang setiap pagi berkumandang, tilawah Quran yang setiap hari melantun bergantian, percikan pelajaran-pelajaran hidup dari setiap crew yang saling terucap, Shalat Berjamaah yang hadir setiap waktunya. subhanallah, walhamdulillah, walhamdulillah..
Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? (Ar-rahman:13)
Pekalah lah dalam setiap langkah yang terjejaki, pekalah dalam setiap keadaan yang terlewati..
Bekerja
saat masih aktif kuliah, sekarang juga masih sih sebenernya, leni pernah merasakan satu ketakutan, takut jikalau kelak si leni tak menemukan lingkungan kondusif seperti saat kuliah. lingkungan yang saling mengingatkan pada kebaikan, lingkungan yang selalu mengingatkan leni pada indahnya islam, dan utamanya adalah lingkungan yang senantiasa mengantarkan leni untuk semakin dekat denganMu.
Yah "Salman!" leni begitu ingin bekerja di Mesjid salman ITB. karena saat itu, bagi leni salman adalah lingkungan yang super kece ;) namun nyatanya, Dia lebih memilih untuk menganugrahkan MQFM agar saya dapat terus mengepakkan sayap padaMu. lantunan asmaul husna yang setiap pagi berkumandang, tilawah Quran yang setiap hari melantun bergantian, percikan pelajaran-pelajaran hidup dari setiap crew yang saling terucap, Shalat Berjamaah yang hadir setiap waktunya. subhanallah, walhamdulillah, walhamdulillah..
Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? (Ar-rahman:13)
Pekalah lah dalam setiap langkah yang terjejaki, pekalah dalam setiap keadaan yang terlewati..
***
Sebenarnya,
masih banyak lohh, keberuntungan-keberuntungan yang Allah persembahkan pada
hamba-hambaNya. Salah satunya pada si leni ini. namun tampaknya terlampau
panjang jika saya harus menuliskannya, hehe..
Maka saya akan
tau, betapa beruntungnya diri ini, betapa beruntungnya jalan hidup yang Ia
hadiahi, betapa istimewanya anugerah kasih sayangMu yang senantiasa Kau beri :)
Nyatanya kita
tak akan pernah dapat menghitung nikmatNyaa..
*Edisi Syukur*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar