gambar dari sini
hwuahhh.. nenek betapa tuanya
dirimu, hhe..hari ini bolehlah dirimu yang "tua", mungkin esok bisa
jadi aku, kamu, dia, kita, kalian atau mereka karena "Tua itu Pasti"
selama kita masih diberi kesempatan untuk bisa merasakan itu olehNya :)
“DEWASA”
hemm, dewasaa?? akankah ia bisa berjalan beriringan denganmu
wahai sang tua dan akankah dewasa ini hanya sekedar dijadikan sebuah pilihan
saja??
DUA PULUH SATU I will get it..
owchh, semakin tua saja diri ini. tapi ku yakin hal ini tak akan bisa mengusik
semangat juang ku untuk terus menata diri! semogaa.. Teringat satu percakapan
iseng-iseng tak berhadiah mengalir begitu sajaa. Percakapan dimulai dari
seorang wanita ciptaanNya, sebut saja dia tempe.
“Heyy.. kalian kelahiran tahun
berapa?? Tanya tempe, dengan berjuta
antusiasme yang membuncah. Si aku pun mencoba menjawab dengan tetap
mempertahankan kecoolan yang ada pada
dirinya, hehe..”19…” jawabku singkat. Serempak, saudara-saudara setanah air
yang kebetulan sedang ikut nimbrung dalam obrolan kami pun turut menyeruak
saling mengoper jawaban. “19..”, “19.." de, el, el hemm, ceritanya
anggap saja semua sudah menjawab.
Mendengar itu, tiba-tba Sang tempe pun mengujar, mencoba menangkap
jawaban-jawaban kami yang baru saja terlontar.. “Wahhh.. berarti aku yang
paling muda duoonggg disini, haha..” ujar tempe
teramat-sangat-bahagia-sekali dengan wajah i-imutan
yang tak henti dia tunjukan. Lahh.. truss?? -____-“ mencoba untuk tak
mengeluarkan prasangka apapun dalam benak.
Memang tak ada yang salah dari
dirimu wahai tempe atau dari diriku,
mungkinn.. yah karena itulah fakta dan suatu keniscayaan bahwa akan ada tua dan
ada muda. Namun aku kembali tersadar, akan kah karena usia ini yang semakin
bertambah, pada akhirnya yang menuntut sebuah kedewasaan?? Ataukah karena
perasaan nurani yang berbisik aku masih atau paling muda lalu tak berhak untuk
dewasa?? Ataukah sugesti yang memilihku untuk tak menjadi dewasa?
Akan kuberi tahu, makhluk
termuda yang pernah aku kenal adalah seorang bayi yang baru 1 detik lalu keluar
dari rahim seorang ibu, jadi stoplah menganggap diri ini merasa paling muda
hingga akhirnya “Paradigma” itu mengekang potensi kita untuk mencoba berfikir
dewasa, bijak, serta mengeluarkan jiwa kemaskulinan anda wahai pria dan
keanggunan mu wahai para wanita. Ayolahh.. jangan mengurung terus menerus dalam
sugesti kechildishan ini. Kita tidak
akan pernah tahu kapan Tuan Izrail mengetuk pintu jiwa.. jangan sampai kita
menyesal karena kita tak pernah menjadi dewasa.. tak perlu menunggu tahun, atau
bahkan melihat lingkungan semuda dan setua apa kita atau mereka, hingga kita
terpaksa untuk menjadi dewasa atau berpura pura untuk dewasa. Dewasa itu gratis
bung!! tak sekedar hanya menjadi pilihan saja. Semua orang berhak untuk dewasa
bukan.. hidupp dewasaa!!
# for u wahaii para tetua yang
tak pernah berfikir untuk menjadi dewasa, dan untukmu leni makhluk berjiwa muda
yang mulai “menua”, hehe..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar