Apa
yang terlintas pertama kali, saat kita mendengar kata “Politik”?
Mungkin
jawaban anda bisa jadi sama, kekuasaan, dinasti A***, korupsi, berat, pusing, teungarti, ahh
terlalu rumit.. :|
Apalagi
dengan beragam kasus yang akhir-akhir ini rutin menghiasi layar kaca kita. Baik
televisi maupun internet, mereka sungguh heboh
menggambarkan kebobrokan panggung perpolitikan Indonesia. Saya yakin, isu isu tersebut
telah bisa sukses semakin menggiring opini negatif kita terhadap makhluk
bernama‘politik’ bukan? (kalau
saya sih iya)
Tapi
guys,
diluar kenyataan politik itu katakanlah sungguh “gak saya banget”. Sadar atau tidak,
mau atau tidak mau tahu, politik itu dasarnya adalah penting. Utamanya bagi
keberlangsungan dan keutuhan masa depan kita sebagai umat muslim dalam
menjalankan kewajiban (ibadah). Iyakah?
Islam,
politik dan masa depan umat muslim nyatanya saling berhubungan satu sama lain.
Karena dasarnya, politik adalah seni mengatur urusan publik/ masyarakat/ umat
agar mereka dapat beribadah dan melakukan segala aktivitasnya menjadi bernilai
ibadah (ceuk
islam). Hemm, sungguh jauh dari opini dan fakta politik yang tengah
berkembang saat ini memang.

Dan
inilah beberapa bukti, betapa penting dan berkaitannya politik bagi islam dan
masa depan umat muslim saat ini.
***
Pada
moment idul adha kemarin, saat saya dan umat muslim Indonesia lain tengah
bersuka cita merayakan ibadah qurban, saya mendapati beberapa kabar tidak baik
yang muncul dari saudara-saudara kita umat muslim di belahan bumi lain.
Diantaranya:
Kabar
mengenai umat muslim Polandia yang tidak dapat menyembelih hewan kurban karena
terbentur aturan undang-undang kehewanan yang berlaku di negaranya. Polandia
menganggap, ritual penyembelihan hewan yang disyariatkan islam tersebut,
dinilai tidak ber-perikehewan-an. Maka lahirlah pelarangan menyembelih hewan di
Polandia. ini beritanya >> Muslim Polandia tidak Menyembelih Kurban
Lalu
adapula umat muslim dibeberapa Negara dengan minoritas muslim di
dalamnya. Salah satunya umat muslim Malawi di Afrika Selatan yang tidak
dapat menikmati perayaan idul Adha sepenuh jiwa dan raganya loh, (oh no) karena
negaranya tidak memberlakukan hari libur resmi bagi peringataan Idul Adha.
Akhirnya, merekapun harus rela melakukan rutinitas seperti hari biasanya (anu sakola, sakolaaa… anu
kerja nyaa kerjaaa). Ini beritanya >> Muslim Malawi tak Beridul Adha
Saya
jadi teringat juga kisah Turki! pasca runtuhnya Kesultanan Turki ottoman dulu,
dimana Turki yang saat itu identik dengan islam, akhirnya harus tumbuh dan
berubah perlahan menjadi Negara sekuler. Hal tersebutpun berdampak pada
keberlangsungan islam di dalamnya. Diantaranya yaitu, munculnya aturan
pelarangan jilbab bagi wanita muslim di Turki, juga kumandang adzan yang di
rubah menjadi berbahasa Turki. (sedihnya)
***
Itulah.,
yah mungkin itu hanya sebagian kecil polemik berkaitan dengan umat muslim yang
saat ini tengah melanda belahan negeri lain, pun bisa juga terjadi di Indonesia
(mungkin). Tidak dipungkiri loh,
permasalahan-permasalahan itu timbul karena ada peran politik didalamnya.
Mengapa
pada akhirnya aturan pelarangan penyembelihan hewan di Polandia bisa tercipta?
Mengapa pula Malawi memilih untuk tidak menjadikan Hari raya Idul Adha sebagai
salah satu hari libur resmi di Negaranya? Serta mengapa pada masanya, Turki
melarang penggunaan jilbab dan kumandang adzan memakai bahasa Arab? yah bisa
jadi, kebijakan itu merupakan hasil dari kesepakatan orang-orang yang ada di
dalam pemerintahan negara itu sendiri (memang
mereun).
Bukan
tidak mungkin, saat mayoritas pemerintahan didalamnya adalah orang yang
acuh dengan islam atau bahkan anti islam, merekapun membuat kebijakan yang
tenyata semakin membatasi bahkan mempersulit umat muslim untuk menjalankan
kewajibannya secara aman, nyaman, dan tenteram.
Dan
disadari atau tidak, warga Indonesia termasuk saya loh yang saat ini bisa menjalankan
aktivitas ibadah dengan penuh kekhusyuan, ternyata tidak terlepas dari
peran mayoritas umat muslim yang tengah duduk di pemerintahan dan
memperjuangkan kebijakan-kebijakan Negara, agar ia tetap sejalan dengan
keutuhan umat islam didalamnya (bersyukur) Apalagi Indonesia merupakan negara
dengan mayoritas muslim didalamnya. Yah mayoritas jenis (yang mengaku) islam (katanya sih)
Itulah
politik, dunia seputar mengurusi masyarakat atau umat. politik itu adalah
penting.
Politik
yaitu, siapa yang pada akhirnya menjadi pemimpin? Dan seperti apa mayoritas
orang yang duduk di parlemen pemerintahan dan mewakili suara rakyatnya?
Yah mereka yang terpilih oleh rakyat! Mereka (jelas) dapat berpengaruh terhadap
setiap kebijakan yang akan terlahir dan berkembang di dalam negaranya.
(nu kitu lain politik teh)
Ini
opini, bisa jadi subjektif bahkan memicu opini berbeda lainnya
wallahu’alam..
20 Okt 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar